Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal..[QS: 3:190]  







Pengingat Waktu

About Me
Nama asli saya mah Supriadi kelahiran Bogor Asli, sekarang dah punya istri 1 plus dikaruniai seorang anak putri
H i k m a h
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu musuh kalian yang nyata. (Qs. al-Baqarah [2]: 208).
Allah SWT memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya, untuk mengambil seluruh ikatan dan syari’at Islam, mengerjakan seluruh perintahNya serta meninggalkan seluruh larangaNya, selagi mereka mampu.” (Imam Abu Al-Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Juz I, hal. 247).

Apabila kekuasaan terpisah dari agama, atau apabila agama terpisah dari kekuasaan, niscaya perkataan manusia akan rusak.” (Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah, Majmu'ul Fatawa, jilid.28, hal. 394).
Al-Qur'an Online
Image hosted by Photobucket.com
Catatan Pengunjung

Jadwal Sholat
Link Islami
Syariah.org
Eramuslim.com
e-syariah.net
Harunyahya.com
ukhuwah.or.id
hayatulislam.net
swaramuslim.net
khilafah.com
islamonline.net
Buletin Studia
Musim Muda
Islam Muda
MuslimBlog

Jumlah Pengunjung
Anda Pengunjung ke:
Free Web Counter
Free Hit Counter
online

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


KHITBAH 2004


Sabtu 9 Oktober 2004, aku datang dan Mas Jamal sedang telponan. Anak-anak pada ramai menonton televisi. Mereka sedang mengangkat kasus pembunuhan beberapa mahasiswi yang baru menghadiri kajian kiai kondang Aa Gym yang cukup menghebohkan itu. Langsung aku raih koran yang tergeletak saja di atas meja dan membacanya. Aku kurang begitu peduli berita kriminal televisi, kecuali sekedar tahu.

Sementara Mas Jamal masih tetap telponan. Menurutku, masa-masa khitbah itu bukanlah masa-masa pacaran lewat telpon. Huss, prasangka jelek. Harus dibuang.

Aku memang senang berkunjung ke kos lain. Ada banyak hal aku dapatkan. Tetapi lebih sering mencari kawan bicara. Biasanya saat rasa suntukku kambuh. Katakanlah begitu.

Aku begitu senang mengorek informasi. Malam ini aku mendapatkannya secara cuma-cuma. Dan itu dengan modal tidak serius membaca koran serta tidak sungguh-sungguh menonton televisi. Aku menyimak dan menebak arah obrolan Mas Jamal dengan Mas Bagus sehabis telponan itu. Seharusnya mereka membicarakan hal itu di forum tertutup. Kerahasiaannya benar-benar harus dijaga.

            Aku mendengar dengan dada berdebar-debar. Ada apa sih? Soal perasaan. Bila sudah begini pemikiran jadi ketersampingkan. Tapi, tak seorang pun tahu. Kalaupun menebak, akan menghasilkan kebingungan atau keraguan. Aku paling bisa menjaga rahasia. Bisa saja ketika tampak gembira aku sedang sedih. Ketika sedih aku berprinsip itu harus disembunyikan. Dan aku bisa. Aku seniman, pelukis, penyair dan mungkin perayu. Tapi dulu. Sekarang aku muslim, itu yang kemana-mana aku banggakan. Mudahan-mudahan, harapan yang selalu di hatiku ini hanya karakter. Tak ada sangkut pautnya dengan akhlak.

Akhirnya, aku hanya bisa membuka catatan kecil yang selalu aku bawa kemana-mana. Katakanlah dokumentasi masa-masa puber kedua aku, eh, pra kedua. Ada yang cemburu? Aku memang tampan. “Ha…ha..ha..!!”, demikian tawa teman-teman langsung meledak pas ngedengar kalimat terakhirku ini. “Rasanya gua ingin  muntah!”, Jaka yang memang tampan, mirip pria Itali, meledekku. Aku cuek aja.

Islam punya solusi, kata itu yang selalu aku pegang. Selalu. Walaupun terkadang ada detik-detik yang terlupakan untuk itu. Terlupakan seperti seorang penulis lupa membawa pulpen dan kertas kemana-mana. Tapi bukankah sebuah komitmen untuk berlaku baik sudah tercatat sebagai pahala? Itulah salah satu uniknya Islam.

Sekilas aku menulis. Tentu dengan tanpa diperhatikan siapa-siapa. Acara di televisi mungkin terlalu menarik dan materi obrolan Mas Jamal dan Mas Bagus adalah materi yang amat serius. Mungkin. “Hari ini malam Minggu, Habis dari internet, aku mampir ke Wisma Abu Ghraib. Waktu aku datang Mas Jamal sedang telponan. Bincang-bincang dengan Mas Bagus. Membicarakan tentang seseorang. Dari perbincangan ini aku tangkap di seberang telpon tadi adalah ‘dia’. Sudah Januari atau Pebruari, Mas Bagus agak ragu, tapi condong ke Pebruari. Aku pura-pura baca koran. Bimbang. 9 Oktober 2004.

Tentang hal itu aku jadi teringat pada temanku, Mukhlis. Sangat tampan, aktivis dan percaya diri, kalau nggak bisa dikatakan over acting. Dia melontarkan statemen ’tidak akan menikah seumur hidup’. Tentu kami tertawa mendengarnya. Untuk orang berbadan sehat seperti aku, menunggu sampai seumur hidup hingga nanti ketemu bidadari bermata jeli, terlalu lama. “Nggak kuku!” kata Amir menimpali dengan mimik kekiri-kirian.

“Bagi gua, kalau gua diterima akhwat, itu tidak ada kaitannya dengan ketampanan dan kemampanan gua. Semata-mata karena jodoh. Begitu pula bila ia menolak pinangan gua, bukan berarti ia berubah hebat karena berhasil menolak gua. Semata-mata tetap Allah yang maha hebat,”  kataku mulai memancing latar belakang Mukhlis melontarkan statemen serius tadi.

“Gua nggak akan pernah berhenti berjuang,” tambahku kemudian. Mungkin ini ungkapan aneh, tapi ada gunanya untuk memanasi-manasi diskusi pelepas lelah ini.

“Ada hal-hal lain yang lebih prioritas untuk diperjuangkan!” Serius Mukhlis menanggapi. Dia kepancing.

“Berjuang akan lebih mantap dengan menikah!” kataku.

“Nggak usah macam-macam lah. Kita lihat saja fakta yang ada. Coba perhatikan mas-mas yang sudah menikah itu,” kata Mukhlis dengan mengunakan kata ’mas-mas’ sebagai kata ganti untuk menyebut para senior kami di harakah yang kini kami masuki, “Apakah dakwah mereka menjadi lebih gencar saat setelah menikah dibanding dengan sebelum menikah?” tanya Mukhlis retoris. “Setelah menikah menjadi menurun.” Katanya menjawab sendiri pertanyaan yang ia ajukan.

“Makanya cari yang sama-sama satu orientasi hidup!” Dani yang dari tadi diam langsung memberi solusi.

“Apa sih alasan-alasan umum penolakan akhwat?” kali ini Gigih langsung menembak pada sasaran. Mukhlis bersemangat menjawabnya. (Pengen tahu jawaban Mukhlis?…Sensor dulu la yau! Nggak enak.) Kayaknya dia memang berpengalaman. Ha…ha…ha…

“Tapi ada, kan?”

“Ya. Ada. Mungkin satu diantara seratus akhwat berkerudung dan berjilbab”.

“Ah masa?”

“Iya!”

“Hanya asumsi. Hanya perasaan.”

“Beruntunglah ikhwan yang mendapatkannya,” kataku menimpali.

“Nikah beda harakah, ada masalah?”

“Bagi kita, dengan Ahli Kitab juga bisa,”

“Nah, makanya jangan kuatir,” kataku memberi motivasi dan menepuk lengan Mukhlis. Sekalipun aku tahu ada perbedaan pendapat seputar pernikahan pria muslim dengan wanita Ahli Kitab.

“Ah, lo sekedar ngomong. Aksi dong!” kata Mukhlis disertai dengan mendorong jidatku. Untung nggak keras.  Kalau keras, bisa retak tembok di belakangku, eh, kepalaku yang benjol. Aku tertawa. “Lo bakalan ngerasain sendiri!” ia menambahkan.

“Tapi, untuk orang seperti gua, apapun alasan yang diberikan pada gua, masuk akal atau tidak, tidak ada masalah.” Gigih seperti membelaku.

“Kamu juga. Sama aja,”  Mukhlis tersenyum menatap Gigih yang cengar-cengir.

“Masalah selera dan bukan masalah agama sebenarnya, Khlis!” kata kami. “Tentang agama, masa sih dia nggak percaya sama kita-kita.”

“Sebenarnya,” kata Mukhlis mulai melunak, “Maksud gua mengatakan ini supaya bisa menjadi tausiah bagi akhwat. Yaitu apakah sebenarnya yang mereka cari? Terlalu banyak memilih dan kriteria, dia sendiri akan ngerasain akibatnya. Kalau ada laki-laki yang agamanya telah dikenal, maka terimalah! Masalah selera mesti dikalahkan.”

“Tapi kita di sini bukan akhwat. Tak ada seorang pun yang akhwat.” Kataku tertawa. Terbalas sudah.

“Sekurang-kurangnya lo angkat dalam novel-novel lo nanti!” kata Mukhlis benar-benar merendah dan nampak ia mulai ‘menganggap’-ku.

“Dengan cerita gua yang teramat bagus itu, kayaknya amat mahal bila gua harus ngangkat topik pernik-pernik kayak gituan. Hanya selipan-selipan ideologis yang akan mengisi novel-novel gua.”

“Ah, banyak omong lo!” Mukhlis kembali hendak mendorong jidatku, tetapi dengan refleks aku tangkis. Yang lain pada ketawa. Bubar. Aku ditinggal sendiri di kamar. Sendiri. Sendiri? Ya, sendiri!

 

***

 

Itu dulu. Kalau kini, aku jarang sendiri. Sebab ini bukan lagi kamarku, ini kamar kami. Seorang akhwat cantik telah mencamplok hatiku. Akhirnya, ya....aku nggak bisa berkutik. Daripada memendam lama-lama, waktu itu Bulan Puasa, langsung aku bilang aja. Kepada siapa? Tentu, kepada gadis yang membuat hatiku berebar-debar itu (sorry nih, aku ngerayu he...he...he...!) Ternyata aku salah, Mas Jamal waktu ditelpon itu nggak membicarakan dirinya kok. Juga bukan soal khitbah, ngomongin bisnis sebenarnya. Dengan akhwat sih memang! (Nah, ini juga masalahnya, Mas Jamal kalo lagi ngomong ama akhwat, suaranya suka dilembut-lembutin sih!). Ah udahlah, yang jelas aku udah menikah!

Itu. Makanya, selalu ada yang menemani. Buktinya, waktu menjelang mandi tadi kulihat Sinta masih menyetrika pakaian yang jumlahnya lumayan banyak. Tapi kini kulihat istriku itu memakai gaun dengan warna kesukaanku dan berdiri di depan cermin. Memang, sebelum berangkat ke rumah, aku menelpon akan pulang hari ini. Sebuah resiko pekerjaan, terkadang aku harus meninggalkan istri kesayangan.

***

“Mas, mas, Bangun…bangun…udah jam dua lho, kita belum sholat isya dan sholat malam! ” kudengar suara halus menggetarkanku dan kurasakan percikan air diwajahku. Ketika kubuka mata, ada wajah Sinta dengan mukena putihnya. Tak dapat tidak, aku harus mandi. Bagaimana dakwah kami? Orang-orang bisa menilai sendiri.

(Dan Mukhlis, tadi siang kudengar kabar dari Anton juga udah menikah. Tepatnya Maret lalu. Jadi, tak sampai satu semester berselang denganku).

(sumber: Majalah Remaja Islam Permata)



KEMBALI KE MENU UTAMA


Posted at 04:41 pm by PRAY
Make a comment  

Next Page